METRO  

6.000 Perempuan dan Pelajar Berkebaya Pecahkan Rekor MURI Lewat Gerakan Bersih Sungai dan Pembuatan Eco Enzyme

31 Views

Jakarta | Updatetodaynews.com –Sebanyak 6.000 perempuan dan pelajar tampil serentak mengenakan kebaya melaksanakan aksi nyata pembuatan eco enzyme di 109 lokasi se‑Provinsi DKI Jakarta. Kegiatan tersebar di 42 kecamatan dan 67 sekolah di lima wilayah administrasi kota, dan kini resmi tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai Rekor Nasional Pembuatan Eco Enzyme Terbanyak. Kamis (18/6/2026).

Gerakan ini diinisiasi Yayasan Sedulur Bunda Milenial berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup. Kegiatan ini menjadi wujud nyata kerja sama membangun kesadaran masyarakat mengelola sampah organik rumah tangga menjadi produk yang bermanfaat bagi lingkungan, bukan berakhir di tempat pembuangan akhir.

banner

Melalui pembuatan eco enzyme, peserta belajar mengubah limbah dapur menjadi cairan multifungsi dan berguna menjaga kebersihan, menjaga kualitas air sungai, serta mendorong gaya hidup ramah lingkungan. Keberhasilan pelaksanaan serentak ini membuktikan gerakan pelestarian alam tumbuh kuat saat melibatkan pemerintah, komunitas, sekolah, perempuan, dan generasi muda.

Ketua Umum Yayasan Sedulur Bunda Milenial, Sisca Rumondor, menegaskan pencapaian ini bukan sekadar mengejar rekor, melainkan momentum memperkuat edukasi dan budaya pengelolaan sampah organik mulai dari lingkungan keluarga hingga satuan pendidikan.

“Harapan kami, gerakan ini menjadi titik awal perubahan perilaku masyarakat. Langkah kecil yang dilakukan bersama‑sama akan menghasilkan dampak besar bagi kelestarian lingkungan,” ujar Sisca.

Dalam rangkaian Gerakan Nasional Bersih Sungai, kolaborasi ini diharapkan terus berlanjut agar semakin banyak warga berperan aktif menjaga aliran sungai dan lingkungan demi masa depan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Pemakaian kebaya oleh seluruh peserta bukan sekadar busana, melainkan simbol kuat bahwa pelestarian budaya dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan.

“Kebaya bukan sekadar pakaian tradisional, melainkan representasi jati diri perempuan Indonesia yang berkarakter, berdaya, serta peduli terhadap sesama dan alam. Budaya memegang peranan penting membentuk karakter sekaligus menguatkan citra perempuan Indonesia di tengah tantangan zaman,” tutup Sisca di hadapan awak media.

(Dani)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *