Tangerang| Updatetodaynews.com – Di dunia burung kicau Indonesia, dua jenis burung dengan keunikan suara masing-masing menonjol: samyiong, burung endemis Sunda Kecil yang dijuluki “1.001 suara”, dan murai batu, primadona yang selalu menjadi sorotan di ajang lomba. Meskipun keduanya memiliki keahlian dalam bersuara, keduanya berbeda jauh dalam hal popularitas, status konservasi, dan tantangan pemeliharaan. Selasa (16/12/2025).
Burung yang memiliki nama latin Pachycephala nudigula ini berasal dari kawasan Danau Kelimutu, Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, dan dikenal oleh masyarakat lokal sebagai garu giwa atau “burung arwah”. Yang membuat samyiong unik adalah variasi suaranya yang sangat banyak – bisa menirukan berbagai jenis burung bahkan suara anak ayam, dengan irama yang tak beraturan namun tetap menyenangkan didengar. Tak heran para penggemar menyebutnya “burung 1.001 suara”.
Namun, samyiong masih kurang populer dibandingkan burung gantangan lain seperti kacer atau lovebird, bahkan jauh kalah pamor dengan murai batu. Kurangnya popularitas ini terkait dengan kesulitan memeliharanya: sebagian besar samyiong yang beredar adalah tangkapan liar, dan burung ini sulit menyesuaikan cuaca terlalu panas, sehingga tidak bisa dijemur lama. Selain itu, samyiong cenderung hanya berkicau pada pagi hari (pukul 06.00-10.00 WIB) dan jarang berbunyi pada sore hari, membuatnya jarang diikutkan dalam kontes burung gantangan.
Di sisi lain, murai batu (Copsychus malabaricus) atau yang dikenal juga sebagai kucica hutan, telah lama menjadi salah satu burung kicau paling dicari di Indonesia. Dengan suara yang merdu dan kemampuan menirukan berbagai suara di sekitarnya, murai batu sering disebut “biduan hutan” dan selalu menjadi sorotan di ajang lomba burung kicau. Harganya bahkan bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah untuk burung yang berkualitas tinggi atau pernah meraih juara kontes nasional.
Meskipun pernah masuk daftar satwa dilindungi pada 2018, murai batu kemudian keluar dari daftar setelah beberapa bulan karena alasan banyaknya penangkaran. Namun, ancaman terhadap populasi liar tetap ada, sehingga upaya pelestarian melalui penangkaran yang bertanggung jawab tetap penting.
Keduanya adalah burung yang berbakat dalam hal suara, tetapi samyiong seperti “musisi indie” yang memiliki talenta namun kurang dikenal, sedangkan murai batu adalah “bintang utama” yang selalu menjadi pusat perhatian. Meskipun samyiong masih jarang dipelihara, keunikannya membuatnya memiliki potensi untuk menjadi burung yang dicari oleh kolektor yang mencari sesuatu yang berbeda. Sementara itu, popularitas murai batu harus diimbangi dengan kesadaran untuk melindungi populasi liarnya, agar “biduan hutan” ini tidak menghilang dari alam.
(Redaksi)



